Hariku di sini telah menginjak semester dua, berarti telah 6 bulan kulalui dalam perjalanan hati untuk menjalani masa-masaku. Hasil ujianku semester lalu benar-benar parah, dengan tujuh angka merah di bawah standardisasi sekolah ini. Hm, dan hari ini tepat 100 hari sahabatku tiada. Harusnya Aku akan berangkat sembari membubuhkan bunga yang ku beli ini, nantinya. Namun, tiba-tiba Ibuku jatuh tak sadarkan diri sesaat sebelum aku berangkat sekolah.
Kakiku demam bergetar tak ingin sesuatu terjadi kepada Ibuku, Orang tuaku, satu-satunya. Hatiku tak tahu siapa lagi selain Ibu.
"Sraakk." suara pintu terbuka yang membuat aku terkesiap dan menuju sumber bunyi, dan menyapa Sang Kaus Putih.
"Dok, bagaimana keadaannya dok?" tanyaku dengan harap cemas.
"keadaannya belum stabil, belum boleh diganggu." katanya.
"apa yang terjadi?"
"beliau menderita pembusukan di ususnya, atau lebih tepatnya usus buntu. Harus secepatnya dilakukan operasi." tegasnya.
Cukup untuk membuatku diam, tak berkata.
Aku berjalan penuh kantuk ke dalam kelas dengan langkah gontai. Sesampai di kelas, baru ada Siska, seorang siswi yang pintar dan rajin. Tapi, kami tak pernah berbicara, sepatah kata pun. Dan akan selalu begitu, menurutku.
"tumben, dateng pagi banget." suara sapaan seseorang, yang pasti berasal dari Siska.
"hm.." jawabku tanpa minat, dan itu mengakhiri dialog pertamaku dengan Siska, selama enam bulan kami sekelas.
Bel pun berbunyi dan seluruh siswa menempati bangku-bangkunya. Mempersiapkan amunisi mereka. Ya, terang saja hari ini adalah hari ulangan fisika. Dan, aku sama sekali tak ada persiapan. Namun, tak apa. Bagiku, pelajaran fisika tidak begitu sulit karena fisika adalah satu-satunya pelajaran eksakku yang tidak merah. Hanya saja yang aneh adalah hari ini Gerry tidak sebangku denganku. Dan hal ini mengganggu pikiranku. Sudahlah, paling nanti jam kedua dia pindah ke sini.
Saat jam istirahat Gerry tak kunjung beranjak ke kursinya, yang seharusnnya di sampingku, aku menyapanya.
"Ger.." sapaku.
"ngapain lo?" tanyanya dengan alis yang terangkat.
"hah? kenapa emang?" kataku bingung.
"ngapain lo? kemana lo kemarin? 100 harian Andrew aja lo lupa." desaknya.
"ya ampun Ger, gua ga lupa. gua ga lupa sama sekali, cuma gua ga bisa dateng kemarin, soalnnya ada urusan mendadak." jelasku. Namun, penjelasanku yang seperti itu malah ditanggapinya dengan hanya melengos pergi. Sungguh aku tak berniat melupakan sahabat kami. Tidak sama sekali.
Sejak kejadian itu, sudah satu bulan lebih, aku dan Gerry tak bertegur sapa. Awalnya aku selalu berusaha mengajak Ia berbicara, namun hal itu tidak berhasil dan untuk sekarang hal ini bukanlah prioritasku. Biarlah untuk sementara waktu kami menyendiri menyusuri pertemanan dengan bayang, tak apa. Yang terpenting adalah kesembuhan Ibu. Biaya operasi yang sangat mahal, memaksaku mencari uang tambahan untuk pengobatan Ibu. Sampai sekarang operasi belum dapat dilakukan, karena Aku belum punya cukup uang. Semoga aku bisa bekerja lebih keras untuk Ibu.
Malam ini kembali aku pulang sangat larut dan harus secepat mungkin ke rumah sakit untuk menjaga Ibu. Hari ini aku sangat rindu pada Ibu. Kakiku percepat untuk sampai ke ruangan Ibu dirawat. Begitu melihat Ibu telah terlelap dengan lelahnya. Dengan wajah tuanya yang memiliki sedemikian banyak pengalaman hidup. Aku rindu pada peluknya. Aku memeluknya dalam-dalam. Tangisku tiba-tiba terisak. "Aku akan berusaha bekerja lebih keras lagi, Bu." janjiku pada Ibu. Angin malam menerpa dan membuat tanganku berpaling sejenak menelusuri selimut Ibu agar tak dirasuki dinginnya malam.
Siang ini aku pulang sekolah lebih awal dan membuatku memiliki waktu lebih cepat untuk menjajakan koran kepada pelanggan yang selalu menunggu informasi terbaru dariku. Memang upah loper koran tak seberapa, namun aku bisa mendapat uang lebih untuk pengobatan Ibu dari cara ini. Aku menyimpan hal ini rapat-rapat. Dari siapa pun.
"lo ngapain, Luk?" suara seorang wanita menerawangi pendengaranku.
"Siska?" ucapku kaget.
"lo jualan koran?" tanyanya lagi.
"iya." jawabku cepat sembari bergegas pergi, sebelum Ia bertanya lebih jauh.
Tapi hati ini terasa sakit ketika kakiku bekerja mengayuh sepeda meninggalkan sesosok wanita itu. Hati ini terasa panas, tak kalah panas dengan pipiku yang terasa seperti menahan malu.
Tak apalah hati ini malu, tak apalah Ia tahu. Tak apa Gerry tidak mengerti keadaanku. Tak apa aku sendiri menahan beban dengan punggung kehidupanku. Asal senyum sumber kehidupanku kembali terulas dari bibir Ibu yang selalu menawan bagiku. Asal Ibuku sembuh. Semua akan kujalani sekuatku, semua akan kutanggung sedemikian dulu Ibu kuat menopang beban hidup yang cukup bagi dirinnya sendiri, tanpa pendamping demi aku. Kini, giliranku, demi Ibu.