sore ini begitu melelahkan, tak seperti sore-sore lainnya. Padahal biasanya sore adalah menjadi bagian hari favorit bagiku, meski dipadati dengan seabrek rutinitas, tapi aku menikmati hal itu. Tapi entah, hari ini begitu terasa asing dengan suasana sore di jalan yang begitu berbeda, di sana-sini bertebaran orang-orang aneh, aku tak tahu orang-orang yang aneh, atau malah aku.
sesampai di rumah aku mengistirahatkan motor kesayanganku, lalu ku letakkan helm hitam half-face kebanggannku di meja depan, setelah itu aku bersalin, dan terduduk diam. terlintas masa lalu, masa-masa awal sma. tak terasa sudah tiga tahun aku menjalani masa-masa putih abu-abu ini. Semua terlintas dari awal sma hingga kini.
hari pertama masuk sekolah, selalu menjadi hal menarik bagi setiap siswa. Karena akan banyak teman baru yang dapat kau temui. hahaha ya selalu seperti itu. Aku datang lebih awal dengan menggunakan baju seragamku saat smp.terlihat banyak siswa yang datang dengan berbagai perlengkapan yang aneh, namun aku tidak menggunakan apa pun. aku lupa. musibah.
benar saja, saat bel masuk berbunyi dan kakak kelas datang dan memeriksa segala kelengkapan yang disuruh, hanya aku yang sama sekali terlihat memberontak. Hal ini mengundang amarah bagi mereka. Aku hanya merutuki diri, sembari tersenyum getir.
Dengan tampang kusam, aku terus memolototi bendera, bagaimana tidak, aku melakukan hal ini hanya sendiri, karena hanya aku yang melakukan pelanggaran "kecil" ini, dan di tengah-tengah lapangan. tepat di tengah lapangan. Dan ketika bel berbunyi, saat semua siswa keluar dari kelas masing-masing, mereka semua bertepuk tangan dengan riuhnya diiringi deras tawa dan lontaran ejekan. Lengkap sudah hari pertamaku.
Ya sejak hari pertama, dengan pengalaman terburuk itu aku tidak berani lagi membuat kesalahan sekecil apa pun. Karena hal traumatik pada hari pertama. Ohiya ini adalah hari ketigaku menginjak sekolah ini, dan aku sudah berkenalan dengan teman-teman baru. Tunggu, teman-teman? rasanya banyak sekali. Tapi kan aku baru kenalan dengan satu orang. Dia adalah Gerry, seorang yang pendiam. Orangnya sangat pendiam, tapi yang aku suka adalah, sejauh ini menurutku dia adalah orang yang menghargai orang lain.
"Luki, apa aku mengganggumu?" sebuah suara, suara sapaan pertama dari Gerry, biasanya aku yang harus bertanya dahulu. setelah 2 minggu kami bersekolah.
"Lihat gak? gua lagi ngapain?" tanyaku dengan nada tinggi yang direkayasa, hanya untuk menggodanya.
"gak tahu" jawabnya seadanya.
"hahahaha gak kok Ger, gua cuma bercanda. emang kenapa? kok tumben nanya?"
"gapapa kok, sebenernya gua cuma bosen. lama-lama jadi anak pendiem itu gak enak."
"nah! elo tau! hahahaha, tapi bukannya elo emang pendiem?" tanyaku
"hm, sebenernya gua baru nyoba jadi pendiem pas sma, waktu smp gua malah banyak masalah gara-gara gak bisa diem." katanya dengan nada yang sedih.
"nah? yaudah jadi diri lo sendiri aja lah Ger. masalah itu bukan sebuah masalah karena elo, tapi semua orang punya masalah, termasuk elo. kalo lo ngerasa lo bermasalah ya tinggal kelarin aja."
"maksudnya?"
"maksudnya lo banyak masalah kenapa? orang ngerasa risih karena lo gak bisa diem?" tanyaku.
"ya, kurang lebih kayak gitu sih."
"apa lo ngegangguin mereka? atau lo ngatain mereka?"
"enggak kok, gua gak pernah ngehina dan ngeganggu siapa pun, dan nggak pernah niat begitu."
"nah kalo gitu yaudah, lo bukan sumber masalah. mungkin emang mereka aja yang kurang kenal sama lo, kalo mereka ngerasa lo membuat masalah ya tinggal kelarin aja."
"caranya gimana?"
"ajak ribut aja hahaha." kataku riang.
"bukannya elo gak berani bandel?"
"gak juga kok." jawabku.
"terus kenapa pas hari pertama?"
"emangnya kenapa? hahaha gak kok, intinya gua sama aja kayak lo, cuma gua baru sampe taraf "mengurangi." pungkasku.
"hahahaha." kami berdua tertawa sekeras-kerasnya, membuat muri dan dea, teman sekelas yang duduk tepat di depan kami merasa risih.
"woy berisik lo berdua, biasanya juga pada senyap kayak kuburan." semprot dea judes.
"kalo sama cewe, lain cerita deh, gua nyerah." kataku pada Gerry.
Sudah masuk bulan september, berarti sudah dua bulan kami bersekolah di SMA PANCA KARYA ini. Semuanya berjalan baik-baik saja, setahu kami. Setahu aku dan Gerry, bersama Andrew dan Zoel. Dua teman baruku, dua teman yang akrab dengan kami. Dan sekelas denganku, hingga akhirnya formasi tempat duduk berganti. Bangku di depanku sekarang tidak lagi dihuni dua makhluk lenje, tapi berakhir menjadi tempat berlabuh para makhluk tengik itu. Hingga pada saat pulang sekolah, ada kegaduhan dari luar gerbang. "eh anjing! Panca Karya cupu! mati lo sini, keluar kalo berani, Garda 013 nih! Garuda Daksa 011, 012, 013 All Base!!!!" teriakan lengking bergumpalan dimana-mana, diikuti lemparan-lemparan batu dan gertakan berbagai senjata tajam. Hal ini mengundang minat para berandal Panca Karya. Mereka berlarian, bertebaran mencari benda-benda yang dapat membalas timpukan dari luar. Ada satu anak yang nekat melempar pot bunga keluar. tentunya anak-anak lain ikut terprovokasi, dan membuat guru-guru panik.
Namun, Aku, Gerry, Andrew dan Zoel malah asik ngadem sambil tidur-tiduran di kelas lantai 3. Ngapain ribut rame-rame? gak jelas, setidaknya begitu pemikiran kami. Sampai tiba-tiba ada teriakan dari bawah "Pak, ada mobil orang tua siswa yang di boikot, mobil jemputan siswa sini, mobil CRV warna hitam, pak!" teriak seorang bapak-bapak yang tak ku ketahui siapa. Benakku terus berpikir, CRV warna hitam? mobil jemputan? mama!!! "anjrit, parah!!!" kataku sembari bergegas ke bawah. "woy kenapa Luk?" tanya Andrew. Zoel dan Gerry menyusul. "nyokap gua jemput hari ini, mobilnya di boikot sama anak Garda!!" teriakku. Aku menemukan sebilah bambu runcing di halaman belakang sekolah, dan demikian juga dengan ketiga temanku. Kami berempat memutuskan menerobos pagar belakang, dan akhirya kami sudah di luar sekolah.
"Luk, lo yakin nih? tanya Andrew.
"yakin, itu nyokap gua lagi bahaya, lo takut?"
"gak, cuma mastiin lo gak jiper ama anak Garda." katanya.
Dan "satu, dua, tigaaaa!!! Panca Karya Dua Ribu Tiga Belas!!!" teriak Zoel dan Andrew.
Semua berjalan begitu cepat, baku hantam senjata dan adu jotos terjadi. "Bangsat lo semua, itu nyokap gua!!! bangsaaattt!!!" teriakku sembari meghantam kan bambu ke kepala seorang anak Garda. Namun selanjutnya tanganku ditebas bacokan, entah apa dan darimana.Dan kembali kali ini sebuah bacokan mendarat di bahuku. Tak ku tahu lagi, namun aku masih terus saja melawan dan terus menyerang, dan tanpa disadari seluruh anak Garda sudah berlari kocar-kacir. Tersisa, Aku, Gerry, Zoel yang berlumuran darah, dan... Andrew yang tak sadarkan diri. Kembali semua terjadi begitu cepat, warga membantu kami menggotong Andrew. Lalu, Ibuku turun dan memelukku hangat dengan tangisan yang tak pernah ingin kudengar. Dan aku dalam peluk ibuku. Semuanya gelap.
Dua minggu berlalu keadaan sudah membaik, kondisiku sudah baik, demikian juga dengan kondisi Zoel dan Gerry, namun Andrew masih harus di rawat di rumah sakit beberapa hari lagi. Untunglah kami tidak dikeluarkan dari sekolah, karena niat kami bukan ingin bentrok, namun demi menyelamatkan orang lain. Namun, 2 hari kemudian lembar hitam menyelimuti. Kami mendapat kabar Andrew telah tiada karena luka dalamnya infeksi. Sebuah pil pahit pertama yang harus kutelan di masa sma ini. Dan pil pahit yang kesekian kalinya dalam hidupku.
"Luk, lo inget gak pas Andrew nanya sebelum semuanya?" suara lirih Zoel.
"..." Aku hanya diam, air mata tak sanggup ku tahan di depan makam sang sahabat bagiku.
"Luk, gua besok pindah ke Prancis, gua lanjut sekolah di sana." ungkapnya lirih.
Aku hanya diam, lagi.
"Luk, gua yakin lo bisa jadi anak baik, udah cukup. sekali aja dalam hidup." sambungnya.
Kembali Aku diam. Menunduk, tak sanggup melihat orang-orang yang menjadi korban keegoisanku. Derap langkah Zoel terdengar dan Ia terus melangkah pergi dengan pasti melanjutkan masa-masa yang masih harus diukir. Meninggalkan Aku dan Gerry di tengah luka. Melanjutkan masa depan. Sedangkan Aku masih meratapi sisa-sisa pertemanan dalam angan itu. Baru saja kami melangkah bersama, berempat. Kini dua telah gugur, setelah sebelumnya merasa pahit melangkah berdua. Kami akan melakukannya lagi. Terpaksa. Aku akan menyembuhkan luka ini, dengan perlahan. tak apa perlahan. Namun, pembalasan tetap pembalasan. Siapa pun orang yang melakukan hal tak wajar ini kepada Andrew. Akan kucari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar