Minggu, 27 Januari 2013

Di antara Jerih payah dan Jerit payah Hatiku. (Episode 2)

Hariku di sini telah menginjak semester dua, berarti telah 6 bulan kulalui dalam perjalanan hati untuk menjalani masa-masaku. Hasil ujianku semester lalu benar-benar parah, dengan tujuh angka merah di bawah standardisasi sekolah ini. Hm, dan hari ini tepat 100 hari sahabatku tiada. Harusnya Aku akan berangkat sembari membubuhkan bunga yang ku beli ini, nantinya. Namun, tiba-tiba Ibuku jatuh tak sadarkan diri sesaat sebelum aku berangkat sekolah.

Kakiku demam bergetar tak ingin sesuatu terjadi kepada Ibuku, Orang tuaku, satu-satunya. Hatiku tak tahu siapa lagi selain Ibu.

"Sraakk." suara pintu terbuka yang membuat aku terkesiap dan menuju sumber bunyi, dan menyapa Sang Kaus Putih.
"Dok, bagaimana keadaannya dok?" tanyaku dengan harap cemas.
"keadaannya belum stabil, belum boleh diganggu." katanya.
"apa yang terjadi?"
"beliau menderita pembusukan di ususnya, atau lebih tepatnya usus buntu. Harus secepatnya dilakukan operasi." tegasnya.
Cukup untuk membuatku diam, tak berkata.

Aku berjalan penuh kantuk ke dalam kelas dengan langkah gontai. Sesampai di kelas, baru ada Siska, seorang siswi yang pintar dan rajin. Tapi, kami tak pernah berbicara, sepatah kata pun. Dan akan selalu begitu, menurutku.
"tumben, dateng pagi banget." suara sapaan seseorang, yang pasti berasal dari Siska.
"hm.." jawabku tanpa minat, dan itu mengakhiri dialog pertamaku dengan Siska, selama enam bulan kami sekelas.
Bel pun berbunyi dan seluruh siswa menempati bangku-bangkunya. Mempersiapkan amunisi mereka. Ya, terang saja hari ini adalah hari ulangan fisika. Dan, aku sama sekali tak ada persiapan. Namun, tak apa. Bagiku, pelajaran fisika tidak begitu sulit karena fisika adalah satu-satunya pelajaran eksakku yang tidak merah. Hanya saja yang aneh adalah hari ini Gerry tidak sebangku denganku. Dan hal ini mengganggu pikiranku. Sudahlah, paling nanti jam kedua dia pindah ke sini. 

Saat jam istirahat Gerry tak kunjung beranjak ke kursinya, yang seharusnnya di sampingku, aku menyapanya.
"Ger.." sapaku.
"ngapain lo?" tanyanya dengan alis yang terangkat.
"hah? kenapa emang?" kataku bingung.
"ngapain lo? kemana lo kemarin? 100 harian Andrew aja lo lupa." desaknya.
"ya ampun Ger, gua ga lupa. gua ga lupa sama sekali, cuma gua ga bisa dateng kemarin, soalnnya ada urusan mendadak." jelasku. Namun, penjelasanku yang seperti itu malah ditanggapinya dengan hanya melengos pergi. Sungguh aku tak berniat melupakan sahabat kami. Tidak sama sekali.

Sejak kejadian itu, sudah satu bulan lebih, aku dan Gerry tak bertegur sapa. Awalnya aku selalu berusaha mengajak Ia berbicara, namun hal itu tidak berhasil dan untuk sekarang hal ini bukanlah prioritasku. Biarlah untuk sementara waktu kami menyendiri menyusuri pertemanan dengan bayang, tak apa. Yang terpenting adalah kesembuhan Ibu. Biaya operasi yang sangat mahal, memaksaku mencari uang tambahan untuk pengobatan Ibu. Sampai sekarang operasi belum dapat dilakukan, karena Aku belum punya cukup uang. Semoga aku bisa bekerja lebih keras untuk Ibu. 

Malam ini kembali aku pulang sangat larut dan harus secepat mungkin ke rumah sakit untuk menjaga Ibu. Hari ini aku sangat rindu pada Ibu. Kakiku percepat untuk sampai ke ruangan Ibu dirawat. Begitu melihat Ibu telah terlelap dengan lelahnya. Dengan wajah tuanya yang memiliki sedemikian banyak pengalaman hidup. Aku rindu pada peluknya. Aku memeluknya dalam-dalam. Tangisku tiba-tiba terisak. "Aku akan berusaha bekerja lebih keras lagi, Bu." janjiku pada Ibu. Angin malam menerpa dan membuat tanganku berpaling sejenak menelusuri selimut Ibu agar tak dirasuki dinginnya malam.

Siang ini aku pulang sekolah lebih awal dan membuatku memiliki waktu lebih cepat untuk menjajakan koran kepada pelanggan yang selalu menunggu informasi terbaru dariku. Memang upah loper koran tak seberapa, namun aku bisa mendapat uang lebih untuk pengobatan Ibu dari cara ini. Aku menyimpan hal ini rapat-rapat. Dari siapa pun.
"lo ngapain, Luk?" suara seorang wanita menerawangi pendengaranku.
"Siska?" ucapku kaget.
"lo jualan koran?" tanyanya lagi.
"iya." jawabku cepat sembari bergegas pergi, sebelum Ia bertanya lebih jauh.
Tapi hati ini terasa sakit ketika kakiku bekerja mengayuh sepeda meninggalkan sesosok wanita itu. Hati ini terasa panas, tak kalah panas dengan pipiku yang terasa seperti menahan malu. 

Tak apalah hati ini malu, tak apalah Ia tahu. Tak apa Gerry tidak mengerti keadaanku. Tak apa aku sendiri menahan beban dengan punggung kehidupanku. Asal senyum sumber kehidupanku kembali terulas dari bibir Ibu yang selalu menawan bagiku. Asal Ibuku sembuh. Semua akan kujalani sekuatku, semua akan kutanggung sedemikian dulu Ibu kuat menopang beban hidup yang cukup bagi dirinnya sendiri, tanpa pendamping demi aku. Kini, giliranku, demi Ibu.

Sabtu, 26 Januari 2013

Tangan Renta dalam Tanah

ketika aku terlelap, dengan diam semut menyapukan air mata terakhir
adakah rasa salah dalam bekunya hatiku
hingga akhir Ia berusaha merengkuhku dalam kesombonganku
tingkah buai nafsu menutupi tahunan kasih yang diendapkannya
titian pesan dalam tiap ucap saatku bersalah dalam tubuh kecilku
selalu menghapuskan kesedihan itu
dan aku terus berjalan menyusuri kehidupan yang baru akan kulalui
dan tiap aku menangis di tengah hariku yang buruk, Ia akan merentangkan
tangannya lebar-lebar
menyambut tangisku yang akan kusembur dalam-dalam di peluknya
bahkan hingusku diusapnya penuh kelembutan

setiap hari ku kayuh sepeda tua pemberiannya
dalam harapan, tak sedikit pun aku mengidap lelah
maka Ia bekerja lebih keras, dan akan lebih larut
menimbun tumpukan receh menjadi sebuah nominal
demi benda yang akan ku kayuh setiap harinya
Ia akan selalu membenaki Aku ketika semangatnya pudar
Tak kenal ampun, bagi dirinya Aku adalah dirinya

Tahun lalu dan tahun ini tentu berbeda
Aku sudah mampu menumpukkan segepok uang
dalam satu kali sentikan tangan
aku sudah mampu, maka aku tak butuh sepeda busuk
jahanamnya kemiskinan membuat naluri polos itu mati
melupakan tangan renta yang setiap hari mengelus pipi ini

akar pun akan mati
demikian makhluk lain, termasuk manusia
tak ada yang lain, hanya sebab usia
tangan renta itu harus pergi bersama usia yang telah dijalani
menyapukan kenangan pahit buruk dalam manisnya hidup di dalam tanah

Tuhan pun tahu ketika manusia tinggi
akalnya akan berpendar pada langit
akan mencari langit lebih tinggi
tangan tua renta tak ada di langit
namun, di tanah
dan mataku terbuka setelah sekian lama derita harta yang mengaburi hidup
membukakan mata yang lain yang dipenuhi air
yang tak berhenti jatuh
menetesi tanah sang tua renta yang lembut

ketika Ia masih berlaku dengan tangannya
berusaha merengkuhku dalam tinggiku
yang tak kuat digapainya dalam tangan rentanya
karena aku memandang langit, yang tak dapat bertemu tanah

Aku berpendar pada langit
hingga saat dia terus menggerus kekuatan akhir tubuh
dalam tangan renta mengajukan
untuk merengkuhku dalam tinggiku

Tak layak tangan itu merengkuhku
dalam tangisku sebersit ucap, selama apa pun aku berusaha
Aku lah yang akan merengkuh tangan renta itu

memohon usapan lembutnya kembali
menginginkan hangatnya salim dalam kecup bibirku dalam kata pengampunan

Tipisnya Hitam, Kosongnya Putih. (Episode 1)

sore ini begitu melelahkan, tak seperti sore-sore lainnya. Padahal biasanya sore adalah menjadi bagian hari favorit bagiku, meski dipadati dengan seabrek rutinitas, tapi aku menikmati hal itu. Tapi entah, hari ini begitu terasa asing dengan suasana sore di jalan yang begitu berbeda, di sana-sini bertebaran orang-orang aneh, aku tak tahu orang-orang yang aneh, atau malah aku.

sesampai di rumah aku mengistirahatkan motor kesayanganku, lalu ku letakkan helm hitam half-face kebanggannku di meja depan, setelah itu aku bersalin, dan terduduk diam. terlintas masa lalu, masa-masa awal sma. tak terasa sudah tiga tahun aku menjalani masa-masa putih abu-abu ini. Semua terlintas dari awal sma hingga kini.

hari pertama masuk sekolah, selalu menjadi hal menarik bagi setiap siswa. Karena akan banyak teman baru yang dapat kau temui. hahaha ya selalu seperti itu. Aku datang lebih awal dengan menggunakan baju seragamku saat smp.terlihat banyak siswa yang datang dengan berbagai perlengkapan yang aneh, namun aku tidak menggunakan apa pun. aku lupa. musibah.

benar saja, saat bel masuk berbunyi dan kakak kelas datang dan memeriksa segala kelengkapan yang disuruh, hanya aku yang sama sekali terlihat memberontak. Hal ini mengundang amarah bagi mereka. Aku hanya merutuki diri, sembari tersenyum getir.

Dengan tampang kusam, aku terus memolototi bendera, bagaimana tidak, aku melakukan hal ini hanya sendiri, karena hanya aku yang melakukan pelanggaran "kecil" ini, dan di tengah-tengah lapangan. tepat di tengah lapangan. Dan ketika bel berbunyi, saat semua siswa keluar dari kelas masing-masing, mereka semua bertepuk tangan dengan riuhnya diiringi deras tawa dan lontaran ejekan. Lengkap sudah hari pertamaku.

Ya sejak hari pertama, dengan pengalaman terburuk itu aku tidak berani lagi membuat kesalahan sekecil apa pun. Karena hal traumatik pada hari pertama. Ohiya ini adalah hari ketigaku menginjak sekolah ini, dan aku sudah berkenalan dengan teman-teman baru. Tunggu, teman-teman? rasanya banyak sekali. Tapi kan aku baru kenalan dengan satu orang. Dia adalah Gerry, seorang yang pendiam. Orangnya sangat pendiam, tapi yang aku suka adalah, sejauh ini menurutku dia adalah orang yang menghargai orang lain.

"Luki, apa aku mengganggumu?" sebuah suara, suara sapaan pertama dari Gerry, biasanya aku yang harus bertanya  dahulu. setelah 2 minggu kami bersekolah.
"Lihat gak? gua lagi ngapain?" tanyaku dengan nada tinggi yang direkayasa, hanya untuk menggodanya.
"gak tahu" jawabnya seadanya.
"hahahaha gak kok Ger, gua cuma bercanda. emang kenapa? kok tumben nanya?"
"gapapa kok, sebenernya gua cuma bosen. lama-lama jadi anak pendiem itu gak enak."
"nah! elo tau! hahahaha, tapi bukannya elo emang pendiem?" tanyaku
"hm, sebenernya gua baru nyoba jadi pendiem pas sma, waktu smp gua malah banyak masalah gara-gara gak bisa diem." katanya dengan nada yang sedih.
"nah? yaudah jadi diri lo sendiri aja lah Ger. masalah itu bukan sebuah masalah karena elo, tapi semua orang punya masalah, termasuk elo. kalo lo ngerasa lo bermasalah ya tinggal kelarin aja."
"maksudnya?"
"maksudnya lo banyak masalah kenapa? orang ngerasa risih karena lo gak bisa diem?" tanyaku.
"ya, kurang lebih kayak gitu sih."
"apa lo ngegangguin mereka? atau lo ngatain mereka?"
"enggak kok, gua gak pernah ngehina dan ngeganggu siapa pun, dan nggak pernah niat begitu."
"nah kalo gitu yaudah, lo bukan sumber masalah. mungkin emang mereka aja yang kurang kenal sama lo, kalo mereka ngerasa lo membuat masalah ya tinggal kelarin aja."
"caranya gimana?"
"ajak ribut aja hahaha." kataku riang.
"bukannya elo gak berani bandel?"
"gak juga kok." jawabku.
"terus kenapa pas hari pertama?"
"emangnya kenapa? hahaha gak kok, intinya gua sama aja kayak lo, cuma gua baru sampe taraf "mengurangi." pungkasku.
"hahahaha." kami berdua tertawa sekeras-kerasnya, membuat muri dan dea, teman sekelas yang duduk tepat di depan kami merasa risih.
"woy berisik lo berdua, biasanya juga pada senyap kayak kuburan." semprot dea judes.
"kalo sama cewe, lain cerita deh, gua nyerah." kataku pada Gerry.

Sudah masuk bulan september, berarti sudah dua bulan kami bersekolah di SMA PANCA KARYA ini. Semuanya berjalan baik-baik saja, setahu kami. Setahu aku dan Gerry, bersama Andrew dan Zoel. Dua teman baruku, dua teman yang akrab dengan kami. Dan sekelas denganku, hingga akhirnya formasi tempat duduk berganti. Bangku di depanku sekarang tidak lagi dihuni dua makhluk lenje, tapi berakhir menjadi tempat berlabuh para makhluk tengik itu. Hingga pada saat pulang sekolah, ada kegaduhan dari luar gerbang. "eh anjing! Panca Karya cupu! mati lo sini, keluar kalo berani, Garda 013 nih! Garuda Daksa 011, 012, 013 All Base!!!!" teriakan lengking bergumpalan dimana-mana, diikuti lemparan-lemparan batu dan gertakan berbagai senjata tajam. Hal ini mengundang minat para berandal Panca Karya. Mereka berlarian, bertebaran mencari benda-benda yang dapat membalas timpukan dari luar. Ada satu anak yang nekat melempar pot bunga keluar. tentunya anak-anak lain ikut terprovokasi, dan membuat guru-guru panik.

Namun, Aku, Gerry, Andrew dan Zoel malah asik ngadem sambil tidur-tiduran di kelas lantai 3. Ngapain ribut rame-rame? gak jelas, setidaknya begitu pemikiran kami. Sampai tiba-tiba ada teriakan dari bawah "Pak, ada mobil orang tua siswa yang di boikot, mobil jemputan siswa sini, mobil CRV warna hitam, pak!" teriak seorang bapak-bapak yang tak ku ketahui siapa. Benakku terus berpikir, CRV warna hitam? mobil jemputan? mama!!! "anjrit, parah!!!" kataku sembari bergegas ke bawah. "woy kenapa Luk?" tanya Andrew. Zoel dan Gerry menyusul. "nyokap gua jemput hari ini, mobilnya di boikot sama anak Garda!!" teriakku. Aku menemukan sebilah bambu runcing di halaman belakang sekolah, dan demikian juga dengan ketiga temanku. Kami berempat memutuskan menerobos pagar belakang, dan akhirya kami sudah di luar sekolah.
"Luk, lo yakin nih? tanya Andrew.
"yakin, itu nyokap gua lagi bahaya, lo takut?"
"gak, cuma mastiin lo gak jiper ama anak Garda." katanya.

Dan "satu, dua, tigaaaa!!! Panca Karya Dua Ribu Tiga Belas!!!" teriak Zoel dan Andrew.
Semua berjalan begitu cepat, baku hantam senjata dan adu jotos terjadi. "Bangsat lo semua, itu nyokap gua!!! bangsaaattt!!!" teriakku sembari meghantam kan bambu ke kepala seorang anak Garda. Namun selanjutnya tanganku ditebas bacokan, entah apa dan darimana.Dan kembali kali ini sebuah bacokan mendarat di bahuku. Tak ku tahu lagi, namun aku masih terus saja melawan dan terus menyerang, dan tanpa disadari seluruh anak Garda sudah berlari kocar-kacir. Tersisa, Aku, Gerry, Zoel yang berlumuran darah, dan... Andrew yang tak sadarkan diri. Kembali semua terjadi begitu cepat, warga membantu kami menggotong Andrew. Lalu, Ibuku turun dan memelukku hangat dengan tangisan yang tak pernah ingin kudengar. Dan aku dalam peluk ibuku. Semuanya gelap.

Dua minggu berlalu keadaan sudah membaik, kondisiku sudah baik, demikian juga dengan kondisi Zoel dan Gerry, namun Andrew masih harus di rawat di rumah sakit beberapa hari lagi. Untunglah kami tidak dikeluarkan dari sekolah, karena niat kami bukan ingin bentrok, namun demi menyelamatkan orang lain. Namun, 2 hari kemudian lembar hitam menyelimuti. Kami mendapat kabar Andrew telah tiada karena luka dalamnya infeksi. Sebuah pil pahit pertama yang harus kutelan di masa sma ini. Dan pil pahit yang kesekian kalinya dalam hidupku.

"Luk, lo inget gak pas Andrew nanya sebelum semuanya?" suara lirih Zoel.
"..." Aku hanya diam, air mata tak sanggup ku tahan di depan makam sang sahabat bagiku.
"Luk, gua besok pindah ke Prancis, gua lanjut  sekolah di sana." ungkapnya lirih.
Aku hanya diam, lagi.
"Luk, gua yakin lo bisa jadi anak baik, udah cukup. sekali aja dalam hidup." sambungnya.
Kembali Aku diam. Menunduk, tak sanggup melihat orang-orang yang menjadi korban keegoisanku. Derap langkah Zoel terdengar dan Ia terus melangkah pergi dengan pasti melanjutkan masa-masa yang masih harus diukir. Meninggalkan Aku dan Gerry di tengah luka. Melanjutkan masa depan. Sedangkan Aku masih meratapi sisa-sisa pertemanan dalam angan itu. Baru saja kami melangkah bersama, berempat. Kini dua telah gugur, setelah sebelumnya merasa pahit melangkah berdua. Kami akan melakukannya lagi. Terpaksa. Aku akan menyembuhkan luka ini, dengan perlahan. tak apa perlahan. Namun, pembalasan tetap pembalasan. Siapa pun orang yang melakukan hal tak wajar ini kepada Andrew. Akan kucari.

Jumat, 04 Januari 2013

aku, awang-awang, mati

terlahir sebagai apa yang diharapkan
sangat indah
tumbuh besar sedari pertumbuhan yang diberkahi
amat membahagiakan
bila jadi mati tak bertahan
pada bilah awal secercahan
apa makna segala keriangan lalu?

tak pula sebatang nyawa yang tumbuh
berharap seperti awang-awang kebanyakan
menyerupai sesosok keindahan

namun, mati
mati hati
mati mati
mati
hati mati
hati
mati

nyawa mati
hati mati

patah harap
harapan patah
berkah hilang melalang buana
menyendirikanku di pojok
awang-awang kebanyakan

terlahir sebagai awang-awang
menyerupai nyawa awang-awang
patah demi awang-awang
hilang ditebas awang-awang
mati busuk ditindih awang-awang

awang-awang, aku lahir
awang-awang, aku mati
bahkan hati ini menyeruakkan
kepedihan seumur hidup sebelum mati

aku aku
aku bukan
awang-awang

aku bukan awang-awang