Sabtu, 26 Januari 2013

Tangan Renta dalam Tanah

ketika aku terlelap, dengan diam semut menyapukan air mata terakhir
adakah rasa salah dalam bekunya hatiku
hingga akhir Ia berusaha merengkuhku dalam kesombonganku
tingkah buai nafsu menutupi tahunan kasih yang diendapkannya
titian pesan dalam tiap ucap saatku bersalah dalam tubuh kecilku
selalu menghapuskan kesedihan itu
dan aku terus berjalan menyusuri kehidupan yang baru akan kulalui
dan tiap aku menangis di tengah hariku yang buruk, Ia akan merentangkan
tangannya lebar-lebar
menyambut tangisku yang akan kusembur dalam-dalam di peluknya
bahkan hingusku diusapnya penuh kelembutan

setiap hari ku kayuh sepeda tua pemberiannya
dalam harapan, tak sedikit pun aku mengidap lelah
maka Ia bekerja lebih keras, dan akan lebih larut
menimbun tumpukan receh menjadi sebuah nominal
demi benda yang akan ku kayuh setiap harinya
Ia akan selalu membenaki Aku ketika semangatnya pudar
Tak kenal ampun, bagi dirinya Aku adalah dirinya

Tahun lalu dan tahun ini tentu berbeda
Aku sudah mampu menumpukkan segepok uang
dalam satu kali sentikan tangan
aku sudah mampu, maka aku tak butuh sepeda busuk
jahanamnya kemiskinan membuat naluri polos itu mati
melupakan tangan renta yang setiap hari mengelus pipi ini

akar pun akan mati
demikian makhluk lain, termasuk manusia
tak ada yang lain, hanya sebab usia
tangan renta itu harus pergi bersama usia yang telah dijalani
menyapukan kenangan pahit buruk dalam manisnya hidup di dalam tanah

Tuhan pun tahu ketika manusia tinggi
akalnya akan berpendar pada langit
akan mencari langit lebih tinggi
tangan tua renta tak ada di langit
namun, di tanah
dan mataku terbuka setelah sekian lama derita harta yang mengaburi hidup
membukakan mata yang lain yang dipenuhi air
yang tak berhenti jatuh
menetesi tanah sang tua renta yang lembut

ketika Ia masih berlaku dengan tangannya
berusaha merengkuhku dalam tinggiku
yang tak kuat digapainya dalam tangan rentanya
karena aku memandang langit, yang tak dapat bertemu tanah

Aku berpendar pada langit
hingga saat dia terus menggerus kekuatan akhir tubuh
dalam tangan renta mengajukan
untuk merengkuhku dalam tinggiku

Tak layak tangan itu merengkuhku
dalam tangisku sebersit ucap, selama apa pun aku berusaha
Aku lah yang akan merengkuh tangan renta itu

memohon usapan lembutnya kembali
menginginkan hangatnya salim dalam kecup bibirku dalam kata pengampunan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar