Setiap jari mampu mengetik, demi menyebarluaskan kabar-kabar besar (yang sebenarnya kecil)
Kata-kata kian tersisih dengan huruf-huruf bentukan digital
Tanpa modal intonasi yang hadir
Kita terbiasa mereka-reka, tanpa rasa pada realitas
Aku hanya ingin merayu setiap telinga yang kulalui
"Mas! mas! masihkah engkau mendengarku?"
Kemudian aku hanya berlalu
Aku hanya ingin meletakkan kakiku pada lantai-lantai gerbong kereta
Tidak menaikkan sebelah pun kaki sembari menggoyang-goyangkan jempolku
Sementara jariku terus berkutat dengan huruf-huruf digital yang kuketik
Citra diri selalu ditingkatkan, agar aku dikenal
Tak penting di sini aku mampu meludah sembari menjiilatnya kembali
Asal orang-orang di luar sana melihat keanggunanku
Asal mereka hanya tahu ketika aku makan di tempat yang tak mampu dijangkau kebanyakan dari mereka
Kini 2015!
Aku hanya merindukan sedikit kesederhanaan
Aku hanya merindukan 2014, 2005, 1998!
Saat kita masih saling mendengar kabar gembira, kemarahan, kesedihan, dengan telinga masing-masing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar