Sudah bukan waktu untuk berkiasan, rasa itu nyatanya telak tertinggal tidak dimana-mana
Ingat saja tidak, bagaimana berkesan? ludahi saja para penyair keindahan cinta
Mereka tidak sedang memuja cintanya, tapi buah dadanya
Nafsu nyinyir yang disembunyikan setiap waktu
Hanya persembunyian yang menjadi kawan akrabku, tanpa bara yang menggumpal dan memuncak untuk dibunuh
Tapi, mati tak ada rasanya
Kalau begitu masih saja hidup berpendirian yang mati saja
Jinjit dan berjingkrakan dalam memburu cinta
Agar tidak membangunkan predator sesungguhnya, yang terlelap dan enak-enakan
Sementara seketika meraung dan mengamuk, jika terdahului oleh makhluk yang tak layak mendahuluinya
Sajak masih saja menjadi andalan
Tapi sejujurnya, sajak bukan lagi hal ampuh
Terlalu banyak hal-hal lucu yang menjadikan sajak itu paradoks
Cintaku tak mungkin luput untuk disajak, tapi aku menghindari perbuatan asusila
Apa nyambungnya? Dimana ada cinta, sajak mengikuti dalam umpan si predator bangsat
Coba kau lihat kotak amal, bentuknya kotak berisi amalan tiap orang yang berniat pamer punya uang untuk beramal, sementara yang menerima amal telah tak sabar menanti waktu membelanjakan recehan itu cuma-cuma demi memulihkan fungsi lidah yang lama tak jumpa makanan enak
Cinta itu nilai lah sendiri
Sekian lama hanya mampu bersautan pada tataran ulah manusia
Menemani dosa mereka yang ku hitung, mungkin melebihi napas yang mereka rengkuh
Habislah kau cinta yang berdosa, jadilah benih seperti dulu
Untuk dirimu sendiri, cinta yang tak lagi pamrih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar