Seorang anak kecil lusuh berpadu dengan seorang nenek tua rentan,
duduk menyampir segelas receh
menggantungkan hidup pada gelas itu
Sepatu-sepatu mahal berlalu-lalang
kaki-kaki terawat mereka pandangi
tidak berbanding dengan yang mereka miliki
kaki hitam buduk berkulit kasar kumal
Sang gadis kecil beranjak dari pelukannya
dengan mantap ia berdiri dan mulai berjalan
berlagak pongah menirukan mereka yang berlalu-lalang
Mata-mata keji menelanjangi gadis kecil
dengan pandangan tak pantas
seakan meludahi keberadaannya
Gadis itu kembali dengan mantap,
kali ini membuka suara, dan bertanya
kepada kerumunan yang keji itu
"Apa yang kalian pandangi?"
hening, tak ada reaksi, hanya tatapan sinis berganti bingung
"Kakiku? kaki kami yang merana kering kerontang ini?"
tanyanya lagi
"Tak usah mengibai kami, bukankah sedari tadi kalian tak menyadari kami di sini? kalian hanya melangkah dengan pongah."
"tak usah membandingkan kakiku dengan yang kalian punya, Tuhan saja tidak membandingkan itu."
"Selama kami punya uang, kami tak akan meminta, tapi kami tak punya. tapi, kami masih punya kaki dan kami akan terus berjalan ke tempat orang-orang yang masih mempunyai hati nurani."
Katanya lantang sembari menuntun sang nenek agar beranjak dari jalan yang dipenuhi orang-orang yang berkerumun itu, meninggalkan orang-orang yang hatinya baru saja ditikam itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar