Sabtu, 13 Desember 2014

Sedikit Saja, Undur Ego-Mu Cinta

Sudah bukan waktu untuk berkiasan, rasa itu nyatanya telak tertinggal tidak dimana-mana
Ingat saja tidak, bagaimana berkesan? ludahi saja para penyair keindahan cinta
Mereka tidak sedang memuja cintanya, tapi buah dadanya
Nafsu nyinyir yang disembunyikan setiap waktu
Hanya persembunyian yang menjadi kawan akrabku, tanpa bara yang menggumpal dan memuncak untuk dibunuh
Tapi, mati tak ada rasanya
Kalau begitu masih saja hidup berpendirian yang mati saja
Jinjit dan berjingkrakan dalam memburu cinta
Agar tidak membangunkan predator sesungguhnya, yang terlelap dan enak-enakan
Sementara seketika meraung dan mengamuk, jika terdahului oleh makhluk yang tak layak mendahuluinya
Sajak masih saja menjadi andalan
Tapi sejujurnya, sajak bukan lagi hal ampuh
Terlalu banyak hal-hal lucu yang menjadikan sajak itu paradoks
Cintaku tak mungkin luput untuk disajak, tapi aku menghindari perbuatan asusila
Apa nyambungnya? Dimana ada cinta, sajak mengikuti dalam umpan si predator bangsat
Coba kau lihat kotak amal, bentuknya kotak berisi amalan tiap orang yang berniat pamer punya uang untuk beramal, sementara yang menerima amal telah tak sabar menanti waktu membelanjakan recehan itu cuma-cuma demi memulihkan fungsi lidah yang lama tak jumpa makanan enak
Cinta itu nilai lah sendiri
Sekian lama hanya mampu bersautan pada tataran ulah manusia
Menemani dosa mereka yang ku hitung, mungkin melebihi napas yang mereka rengkuh
Habislah kau cinta yang berdosa, jadilah benih seperti dulu
Untuk dirimu sendiri, cinta yang tak lagi pamrih

Jumat, 12 Desember 2014

Dalam Bahasa dan Budaya Manusia (Indonesia), Ini Disebut Puisi

Manusia memiliki dasar dalam hidupnya, yakni kehidupan dan ketidakpastian
Sisanya? adalah penciptaan yang sebenarnya tidak berhak ditelisik dari sisi mana pun
Hanya kediaman tanpa nilai yang berhak diambil sebagai dalih posisi netral
Bertahun-tahun aku menelan ludah dalam ketidak-tidak-an yang semakin dalam tiap detiknya
Karena umat manusia menjalani seakan semua adalah kodrat dan takdir
Mengapa kita berbicara dengan bahasa? Lalu huruf konsonan terbagi menjadi a i u e dan o?
Seakan mempersempit makna komunikasi yang non-harafiah, sehingga hal-hal yang berpacu di luar batas itu adalah pelanggaran kodrat
Benarkah aku? Salah kah? seakan benar dan salah adalah kondisi yang harus ada
Penjahat bertebaran di luar sel, sebagian menjalani masa hukuman berbulan-bulan dan bertahun-tahun dengan pencabutan hak hidup, padahal kepastian dalam hidup hanya kehidupan dan ketidakpastian
Aku kembali menelan ludah kala mengingat bulan dan tahun merupakan salah satu ukuran mutlak peradaban
Kembali kehidupan yang sesungguhnya luas dipersempit oleh segelintir yang tak mau ambil pusing memikirkan jangkauan waktu yang bukan lagi dimensi atau sekadar khayalan, tapi keterjangkauan yang tidak dapat diwujudkan oleh kapasitas manusia
Dengan begitu sombong, manusia mengklaim sebagai pengatur bumi dan dunia
Padahal buih-buih ludah para hewan memiliki jutaan dan milyaran keluh kesah yang tak akan mampu dipelihara oleh kebaikan hati manusia
Sejuta donat yang kita bikin, tak akan mampu menghapuskan dosa-dosa kesombongan
Dan apalagi? Apa itu kesombongan? Siapa yang tentukan?
Kala kau mencapai titik tertentu dalam pemikiranmu sendiri, kau akan tiba pada "selama ini aku hanya memikirkan tanpa membenturkan kehidupan dalam diriku dengan kehidupan luar yang aku jalani"
Ketika kau telah menyadari itu, maka selamat!
Anda salah satu manusia yang mulai melupakan pentingnya berpikir, hanya sejenak
Untuk meresapi kehidupan yang begitu indah tanpa penilaiaan dan hanya berperan sebagai penikmat
Di sana, letak kesetiaan nurani manusia pada alam sebagai rumah
Hanya merasai tanpa menilai, tapi terkadang kondisi sulit membuat kita harus melepas rasa nyaman yang baru terbentuk seumur bagian kehidupan di bumi
Sejatinya tak ada yang salah dan benar, karena manusia kolektif adalah kumpulan subjetivitas yang berdatangan dan berkumpul kala kepentingan mereka digoyang oleh gesekan yang datang dari awal mereka sendiri
Siapa suruh lahir? Tak ada
Yang ada, hanya hidup lah dengan hidup dan ketidakpastianmu
Daripada tak berbuat apa pun

Jumat, 18 April 2014

hilang yang sepi

manusia bukan manusia
kalau tak lara
sepi bukan sepi
bila tak hening

kesertaan
kesetiaan

tumpuan bertahun hilang
pedih
aliran mata air
sepasang indra
meleleh

tak menahu
rinduku berpaling
untuk siapa

bukankah sepi adalah hilang?
apa tidak?

laksana

jika kau laksana air,
aku adalah riakmu
kau pun cintaiku
meski pada akhir kisah
saat aku telah kelu

kalau ku mampu
hadirkan ribuan tanam
agar berhembus angin

rasa adalah buta
aku pun buta padamu

tak rela berhenti berhembus

bila kau angin,
aku desau 

Senin, 22 Juli 2013

0


Baru saja Aku berdiri memandangi bayangan pada cermin
Ada seorang di sana
Ada di sana
Ada

Baru saja aku berdiri memandangi bayangan pada pantulan air telaga
Ada seorang di sana
Ada di sana
Ada

Baru saja aku berdiri memandangi bayangan pada tanah merah
Ada seorang di sana
Ada di sana
Ada

Namun, tak kudapati seorang di mana pun
Di sana tidak ada
Tidak ada
Tidak

Ketika aku merabai karsaku
Ketika aku mernjamahi relungku
Ketika aku meresapi hatiku

Kosong
Basah hanya dengan duka
Kering tanpa rasa
Hitam pekat menghapus warna

Aku merindukan batuku
Aku merindukan awanku
Aku merindukan bungaku
Aku merindukan bayangku
Aku merindukan hariku
Aku merindukan rasaku

Kian lama tak berpendar
Makin jelas kehilangan

Hai kau
Tak juga kau lihat bibirku
Yang hanya mampu memapah
Tanpa tersungging

Hai kau
Tak juga kau buai wajahku
Yang hanya mampu menekuk
Tak tampak  sumringah


Hai kau
Tak juga kau sambut hatiku
Yang hanya mampu bertahan
Tanpa bertumbuh

Maka berjalanlah aku
Menduakan perasaan kosong
Bercumbu dengan kesepian
Menanti dan terus menanti
Dirimu yang tertaut padaku
Kelak..




Rabu, 20 Maret 2013

khas jalanan

tak ada kata
untuk takut
tak ada waktu
untuk ingin
tak ada jalan
untuk bermimpi

kami kekeringan
kami kekurangan

tak perlu memapah langkahku
kehidupan penuh harmoni
khas pinggiran

hai hai
jalan-jalan terlalu ramai
demi meraih sedikit ruang berbaring
khas pinggiran

sebuah tangan terkadang merangkulku
menguatkan kepada kami
jangan menyerah dalam hidup
khas jalanan

semua terlalu lelah
sudah menyerah
untuk menyerah
khas jalanan

akui saja
hidupku hidup khas pinggiran

akui saja
tak ada jalan lain
karena hidupku khas jalanan

sudah ku kubur jauh tertimbun
segala rasa takut
khas kehidupan

Kamis, 14 Februari 2013

Ayun-ayun Kosong

ketika kosong beriak
suara-suara kepedihan bersahutan
menyelami kesepian
merambah titik sepi

siulan bibir pecah merana
merajuk diri sendiri

kesedihan memuncak
mendorong ayunan pudar sendiri
ayunan melenggok berdua
bersama ayun-ayun yang kosong

tak adakah seorang datang?