Jumat, 18 April 2014

hilang yang sepi

manusia bukan manusia
kalau tak lara
sepi bukan sepi
bila tak hening

kesertaan
kesetiaan

tumpuan bertahun hilang
pedih
aliran mata air
sepasang indra
meleleh

tak menahu
rinduku berpaling
untuk siapa

bukankah sepi adalah hilang?
apa tidak?

laksana

jika kau laksana air,
aku adalah riakmu
kau pun cintaiku
meski pada akhir kisah
saat aku telah kelu

kalau ku mampu
hadirkan ribuan tanam
agar berhembus angin

rasa adalah buta
aku pun buta padamu

tak rela berhenti berhembus

bila kau angin,
aku desau 

Senin, 22 Juli 2013

0


Baru saja Aku berdiri memandangi bayangan pada cermin
Ada seorang di sana
Ada di sana
Ada

Baru saja aku berdiri memandangi bayangan pada pantulan air telaga
Ada seorang di sana
Ada di sana
Ada

Baru saja aku berdiri memandangi bayangan pada tanah merah
Ada seorang di sana
Ada di sana
Ada

Namun, tak kudapati seorang di mana pun
Di sana tidak ada
Tidak ada
Tidak

Ketika aku merabai karsaku
Ketika aku mernjamahi relungku
Ketika aku meresapi hatiku

Kosong
Basah hanya dengan duka
Kering tanpa rasa
Hitam pekat menghapus warna

Aku merindukan batuku
Aku merindukan awanku
Aku merindukan bungaku
Aku merindukan bayangku
Aku merindukan hariku
Aku merindukan rasaku

Kian lama tak berpendar
Makin jelas kehilangan

Hai kau
Tak juga kau lihat bibirku
Yang hanya mampu memapah
Tanpa tersungging

Hai kau
Tak juga kau buai wajahku
Yang hanya mampu menekuk
Tak tampak  sumringah


Hai kau
Tak juga kau sambut hatiku
Yang hanya mampu bertahan
Tanpa bertumbuh

Maka berjalanlah aku
Menduakan perasaan kosong
Bercumbu dengan kesepian
Menanti dan terus menanti
Dirimu yang tertaut padaku
Kelak..




Rabu, 20 Maret 2013

khas jalanan

tak ada kata
untuk takut
tak ada waktu
untuk ingin
tak ada jalan
untuk bermimpi

kami kekeringan
kami kekurangan

tak perlu memapah langkahku
kehidupan penuh harmoni
khas pinggiran

hai hai
jalan-jalan terlalu ramai
demi meraih sedikit ruang berbaring
khas pinggiran

sebuah tangan terkadang merangkulku
menguatkan kepada kami
jangan menyerah dalam hidup
khas jalanan

semua terlalu lelah
sudah menyerah
untuk menyerah
khas jalanan

akui saja
hidupku hidup khas pinggiran

akui saja
tak ada jalan lain
karena hidupku khas jalanan

sudah ku kubur jauh tertimbun
segala rasa takut
khas kehidupan

Kamis, 14 Februari 2013

Ayun-ayun Kosong

ketika kosong beriak
suara-suara kepedihan bersahutan
menyelami kesepian
merambah titik sepi

siulan bibir pecah merana
merajuk diri sendiri

kesedihan memuncak
mendorong ayunan pudar sendiri
ayunan melenggok berdua
bersama ayun-ayun yang kosong

tak adakah seorang datang?

Sabtu, 02 Februari 2013

cinta panjang tak ada

Aku tidak putus asa, selepas darimu
aku pun tidak berpaling pada yang lain,
apalagi memutus tali merah cintaku padamu
dengan rasa yang masih sama aku selalu berharap
tapi kamu, dengan wajah yang sama seperti dulu
saat kamu berpaling mengingkar
dan meneriaki caci maki di depan wajahku
wajahmu saat itu seperti menahan marah dan malu
terhadapku
yang selalu membuat aku ingat bukan hal-hal sepele
tapi rasa bersalah padamu, durhaka cintaku

memang sudah lama sekali
arah jalan terbentang lebar bila ingin pergi
tapi bukan tidak bisa pergi
aku tak mau pergi

dari awal sudah kuputuskan memilih
hanya satu kali
seperti memaku kehidupan yang sekali ini

pernah sekali waktu rasa lelahku datang
menuntun langkah hati pergi menuju ketenangan
tapi jalan di sana begitu jauh dan membuatku tersesat
tanpa apa pun aku berlalu berjalan dan berjalan
yang dengan tuntunan takdir
mengembalikanku ke titik awal
bersama cintaku yang kubawa-bawa menelusuri hatimu

hati memang memiliki kekuatan yang bebas
pikiran memang memiliki keinginan mantap
tapi kembali takdir berbicara

takdir berbicara, ia berkata
"hai pemuda, hatimu sungguh kuat dan kokoh."
"namun kesempatanmu sudah berlalu sejak awal."
Aku diam mempertanyakan dengan batin
"kini tugasmu hanya pergi dan mencari selongsong cinta barumu,
dia ini adalah masa lalumu."

dan dengan kicauan konyolnya ia pergi mengikiskan harapan yang ku ukir
memang berat, memang berat
tapi tak satu pun ada yang salah
dari deretan ucap itu

kaki hatiku melangkah penjelajahan
meninggalkan cintaku yang dahulu
yang tak pernah hilang, tak pernah berubah
tapi hanya menjadi sedikit lebih tua dan akhirnnya jadi kenangan

aku akhirnya hanya masa lalumu
dan kamu masa laluku selamanya

Minggu, 27 Januari 2013

Di antara Jerih payah dan Jerit payah Hatiku. (Episode 2)

Hariku di sini telah menginjak semester dua, berarti telah 6 bulan kulalui dalam perjalanan hati untuk menjalani masa-masaku. Hasil ujianku semester lalu benar-benar parah, dengan tujuh angka merah di bawah standardisasi sekolah ini. Hm, dan hari ini tepat 100 hari sahabatku tiada. Harusnya Aku akan berangkat sembari membubuhkan bunga yang ku beli ini, nantinya. Namun, tiba-tiba Ibuku jatuh tak sadarkan diri sesaat sebelum aku berangkat sekolah.

Kakiku demam bergetar tak ingin sesuatu terjadi kepada Ibuku, Orang tuaku, satu-satunya. Hatiku tak tahu siapa lagi selain Ibu.

"Sraakk." suara pintu terbuka yang membuat aku terkesiap dan menuju sumber bunyi, dan menyapa Sang Kaus Putih.
"Dok, bagaimana keadaannya dok?" tanyaku dengan harap cemas.
"keadaannya belum stabil, belum boleh diganggu." katanya.
"apa yang terjadi?"
"beliau menderita pembusukan di ususnya, atau lebih tepatnya usus buntu. Harus secepatnya dilakukan operasi." tegasnya.
Cukup untuk membuatku diam, tak berkata.

Aku berjalan penuh kantuk ke dalam kelas dengan langkah gontai. Sesampai di kelas, baru ada Siska, seorang siswi yang pintar dan rajin. Tapi, kami tak pernah berbicara, sepatah kata pun. Dan akan selalu begitu, menurutku.
"tumben, dateng pagi banget." suara sapaan seseorang, yang pasti berasal dari Siska.
"hm.." jawabku tanpa minat, dan itu mengakhiri dialog pertamaku dengan Siska, selama enam bulan kami sekelas.
Bel pun berbunyi dan seluruh siswa menempati bangku-bangkunya. Mempersiapkan amunisi mereka. Ya, terang saja hari ini adalah hari ulangan fisika. Dan, aku sama sekali tak ada persiapan. Namun, tak apa. Bagiku, pelajaran fisika tidak begitu sulit karena fisika adalah satu-satunya pelajaran eksakku yang tidak merah. Hanya saja yang aneh adalah hari ini Gerry tidak sebangku denganku. Dan hal ini mengganggu pikiranku. Sudahlah, paling nanti jam kedua dia pindah ke sini. 

Saat jam istirahat Gerry tak kunjung beranjak ke kursinya, yang seharusnnya di sampingku, aku menyapanya.
"Ger.." sapaku.
"ngapain lo?" tanyanya dengan alis yang terangkat.
"hah? kenapa emang?" kataku bingung.
"ngapain lo? kemana lo kemarin? 100 harian Andrew aja lo lupa." desaknya.
"ya ampun Ger, gua ga lupa. gua ga lupa sama sekali, cuma gua ga bisa dateng kemarin, soalnnya ada urusan mendadak." jelasku. Namun, penjelasanku yang seperti itu malah ditanggapinya dengan hanya melengos pergi. Sungguh aku tak berniat melupakan sahabat kami. Tidak sama sekali.

Sejak kejadian itu, sudah satu bulan lebih, aku dan Gerry tak bertegur sapa. Awalnya aku selalu berusaha mengajak Ia berbicara, namun hal itu tidak berhasil dan untuk sekarang hal ini bukanlah prioritasku. Biarlah untuk sementara waktu kami menyendiri menyusuri pertemanan dengan bayang, tak apa. Yang terpenting adalah kesembuhan Ibu. Biaya operasi yang sangat mahal, memaksaku mencari uang tambahan untuk pengobatan Ibu. Sampai sekarang operasi belum dapat dilakukan, karena Aku belum punya cukup uang. Semoga aku bisa bekerja lebih keras untuk Ibu. 

Malam ini kembali aku pulang sangat larut dan harus secepat mungkin ke rumah sakit untuk menjaga Ibu. Hari ini aku sangat rindu pada Ibu. Kakiku percepat untuk sampai ke ruangan Ibu dirawat. Begitu melihat Ibu telah terlelap dengan lelahnya. Dengan wajah tuanya yang memiliki sedemikian banyak pengalaman hidup. Aku rindu pada peluknya. Aku memeluknya dalam-dalam. Tangisku tiba-tiba terisak. "Aku akan berusaha bekerja lebih keras lagi, Bu." janjiku pada Ibu. Angin malam menerpa dan membuat tanganku berpaling sejenak menelusuri selimut Ibu agar tak dirasuki dinginnya malam.

Siang ini aku pulang sekolah lebih awal dan membuatku memiliki waktu lebih cepat untuk menjajakan koran kepada pelanggan yang selalu menunggu informasi terbaru dariku. Memang upah loper koran tak seberapa, namun aku bisa mendapat uang lebih untuk pengobatan Ibu dari cara ini. Aku menyimpan hal ini rapat-rapat. Dari siapa pun.
"lo ngapain, Luk?" suara seorang wanita menerawangi pendengaranku.
"Siska?" ucapku kaget.
"lo jualan koran?" tanyanya lagi.
"iya." jawabku cepat sembari bergegas pergi, sebelum Ia bertanya lebih jauh.
Tapi hati ini terasa sakit ketika kakiku bekerja mengayuh sepeda meninggalkan sesosok wanita itu. Hati ini terasa panas, tak kalah panas dengan pipiku yang terasa seperti menahan malu. 

Tak apalah hati ini malu, tak apalah Ia tahu. Tak apa Gerry tidak mengerti keadaanku. Tak apa aku sendiri menahan beban dengan punggung kehidupanku. Asal senyum sumber kehidupanku kembali terulas dari bibir Ibu yang selalu menawan bagiku. Asal Ibuku sembuh. Semua akan kujalani sekuatku, semua akan kutanggung sedemikian dulu Ibu kuat menopang beban hidup yang cukup bagi dirinnya sendiri, tanpa pendamping demi aku. Kini, giliranku, demi Ibu.